Sunday, 29 January 2017 01:09

Pelatihan K3 – Masalah Heat Stress (Sambungan)

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Pelatihan K3 – Masalah Heat Stress (Sambungan)

 

Heat Cramps

Heat cramps atau kram panas yakni sebuah kejadian kejang atau kram yang terjadi pada otot-otot yang disebabkan oleh hilangnya cairan elektrolit, walaupun sudah diberi  minum air secukupnya tetapi itu tidak akan bisa menggantikan zat garam didalam tubuh, dan bahkan air yang diminum itu akan  mengencerkan cairan elektrolit yang terdapat didalam tubuh dan akan semakin memudahkan cairan elektrolit tersebut semakin keluar dari dalam tubuh sehingga kadar cairan elektrolit akan semakin rendah, dalam hal ini akan menyebabkan otot mengalami kram yang sanagat menyakitkan. Biasanya kram ini bisa terjadi pada otot kaki, lengan, atau perut. Biasanya otot-otot yang terlalu lelah bisa lebih gampang menjadi kram. Kram bisa terjadi selama satu(1) atau setengah jam, itu akan bisa dipulihkan dengan cara meminum cairan yang mengandung elektrolit ataupun garam.

 

Fainting

Fainting atau pingsan  dapat terjadi pada para pekerja yang belum terbiasa untuk bekerja dilingkungan panas. Pada waktu bekerja biasanya akan terjadi pembesaran pembuluh darah dibawah kulit dan pada bagian bawah tubuh guna menstabilkan suhu tubuh, sehingga darah akan terkumpul disana dan otak yang mengalami kekurangan suplai darah. Sesaat setelah pekerja yang pingsan tadi dipindahkan ke ruangan yang agak lebih dingin dan direbahkan supaya darah mengalir ke otak agar korban bisa segera sadar kembali.

Baca Juga : Pelatihan K3 Umum

Heat Rash

Heat rash atau biasa disebut biang keringat bisa dialami pada lingkungan panas yang lembab, dimana pada saat keringat tidak bisa menguap dan akan menempel dikulit atau kulit akan tetap basah, sehingga bisa memunculkan biang keringat. Untuk bisa  menghindari terjadinya biang keringat pekerja bisa melakukan istirahat diruangan yang lebih dingin dan mandi yang bersih serta melakukan pengeringan kulit. Jika terjadi biang keringatnya parah, maka akan lebih baik jika segera berobat ke dokter kulit.

Transient Heat Fatigue

Transient heat fatigue yaitu sebuah kelelahan panas sementara yang biasa terjadi dikarenakan ketidaknyamanan pada saat  terpapar suhu panas yang dapat mengakibatkan ketegangan mental atau psikologis. Biasanya hal ini akan terjadi pada pekerja yang rentan pada suhu panas, dan bisa mengakibatkan terganggunya kinerja, koordinasi serta kewaspadaan para pekerja. Untuk tingkat menguji ketahanan terhadap panas dari pekerja yang sering mengalami transient heat fatigue bisa dinaikkan sedikit demi sedikit dengan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih panas.

ACGIH  (American Conference of Industrial Hygienist) member sebuah nilai ambang batas (NAB) untuk paparan bekerja pada lingkungan yang panas. Tujuan utama dari ditentukannya NAB ini adalah supaya bisa menjaga agar temperatur tubuh bisa berada dalam kondisi normal atau dibawah 38 deg C.

ACGIH 2006 TLV Screening Criteria for Heat Stress Exposure (WBGT values in degrees C)

 

Acclimated

Un-acclimated

Work Demands

 

Light

 

Moderate

 

Heavy

Very

Heavy

 

Light

 

Moderate

 

Heavy

Very

Heavy

100% Work

29.5

27.5

26

 

27.5

25

22.5

 

75% Work; 25% Rest

30.5

28.5

27.5

 

29

26.5

24.5

 

50% Work; 50% Rest

31.5

29.5

28.5

27.5

30

28

26.5

25

25% Work; 75% Rest

32.5

31

30

29.5

31

29

28

26.5

Daftar nilai temperature yang terdapat didalam table tersebut diatas adalah dipapatkan dari hasil pengukuran dengan memakai heat stress monitoring atau dikenal dengan WBGT (baca wibget). Nilai WBGT yang merupakan sebuah fungsi dari kelembaban, radiasi panas dan temperature yang normal. Jadi hal ini tidak bisa hanya diukur dengan thermometer biasa dan selanjutnya bisa digunakan pada table diatas.

Bagaimana cara membaca table ACGIH diatas:

Pada kolom acclimated itu diperuntukkan para pekerja yang telah biasa bekerja pada area yang panas dan Un-acclimated itu diperuntukkan para pekerja yang tidak terbiasa bekerja di area panas atau pekerja yang relatif baru pada bidang tersebut. Biasanya seseorang akan menurun kondisi daya tahannya apabila dia lama tidak bekerja pada lingkungan dengan suhu panas. Untuk hal ini gunakanlah kolom un-acclimated. Apabila pembacaan menghasilkan WGBT nya adalah 28.5 derajat Celsius, maka untuk yang sebaliknya yaitu yang sudah terbiasa dengan lingukngan kerja yang panas – acclimated – boleh 50% bekerja dan 50% istirahat untuk kategori pekerjaan berat dalam per jam nya, akan tetapi apabila pekerjaanya sedang saja, maka 75% bekerja dan 25% istirahat per jamnya. Akan tetapi buat para pekerja yang un-acclimated maka mereka diberi 25% bekerja dan 75% istirahat untuk jenis pekerjaan yang berat dalam setiap jamnya. Akan tetapi untuk pekerjaan yang sedang mereka bisa menggunakan 50% bekerja dan 50% istirahat per jamnya.

Sedangkan penjelasan beban kerja menurut ACGIH adalah sebagai berikut:

  • Kerja ringan : yaitu suatu pekerjaan yang dilakukan denganmenggunakan mesin dan tidak menggunakan tenaga. Pekerja bisa dalam posisi berdiri atapun dalam posisi duduk pada saat mengoperasikan mesintersebut.
  • Kerja sedang : apabila pekerja berjalan sambil mengangkat beban atau mendorong benda dengan berat yang sedang. Seperti pada scrubbing dengan posisi berdiri.
  • Kerja berat : melakukan pengambilan pasir kering dengan sekop, melakukan pemotongan dengan gergaji.
  • Sangat berat : melakukan pengambilan pasir basah dengan sekop.

 

Sedangkan di negeri kita ada SNI yang sudah mengatur hal hal tentang nilai ambang batas suhu kerja, yaitu SNI 16-7063-2004. Terlihat pada tabel berikut yang menunjukkan nilai ambang batas pengendalian suhu kerja(panas).

Pengaturan waktu kerja setiap jam

ISBB (°C)

Waktu Kerja

Waktu Istirahat

Bebrian Kerja

Ringan

Sedang

Berat

75%

25%

30.6

28.0

25.9

50%

50%

31.4

29.4

27.9

25%

75%

32.2

31.1

30.0

Kategori beban kerja menurut SNI:

–     Beban kerja ringan : Pekerja akan membutuhkan kalori 100 – 200 kilokalori/jam.

–     Beban kerja sedang : Pekerja membutuhkan lebih besar dari 200 – 350 kilokalori/jam.

–     Beban kerja berat : Pekerja membutuhkan lebih besar dari 350 – 500 kilokalori/jam.

Keputusan menteri tenaga kerja no KEP-51/MEN/1999 yakni peraturan tentang nilai ambaang batas faktor fisika yang berlaku ditempat kerja yang bisa memberikan nilai batasan yang sama dengan SNI tersebut.

Semoga bermanfaat.

Read 536 times
01 / 02
02 / 02

seo checker

Visitors Counter

347293
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
252
445
4660
339234
10247
22426
347293

Surabaya

Ruko Pakuwon Town Square AA/2.25, Surabaya

Semarang

Jl. Mugas Dalam IX,  no. 8  Semarang

Bekasi

Suncity Square H - 20, Jl. M Hasibuan, Marga Jaya, Bekasi Sel., Kota Bks, Jawa Barat 17141

Telp : ( 021 ) 888 69 010, 888 69 021

Fax   : ( 021 ) 888 68 969

JoomShaper